(sugesti pantulan kaca)
Yang cakep, menurut satu kaca belum tentu cakep buat cermin yang lain. Gimana caranya menjamin semua cermin memantulkan kecakepan tampang ini?
Siang itu aku bersiap untuk pergi ke undangan walimah temanku. Aku berhias dengan membubuhkan bedak ke seputar raut wajah., kurapihkan letak kerudung, sematkan bros yang mempermanis penampilanku yang sudah manis. Hihihiiihi,….”Kayaknya dah ok, deh!! Baju, bawahan, kerudung matching banget. Ok, deh siap jalan”. Aku raih tiga gelang keroncong perak yang menambah aksiku hari ini. ”Kayaknya mang dah ok, kok, berangkat,” seru hatiku. Aku berputar di depan cermin kesayangan, sekedar meyakinkan kalau penampilanku memang sudah maksi.
Lokasi walimah yang terletak di Senayan, mengharuskan aku memilih untuk menumpang bus 46 dari Cawang Atas dan turun Farmasi Senayan. Kemudian lanjut ojek ke arah Menpora sebelah TVRI. Yak, manis, rute itu tertata rapi di kepalaku. Hmmhh, senyum menyungging, wah keren deh. Di sana ntar ketemu temen-temen kampus plus Nisa, rekan kantorku yang memilih untuk ketemu di sana.
Tiba di lokasi, undangan sudah meruyak, menjelajah semua sudut ruangan. Aku berjejalan sebentar ke arah pelaminan. Sampai juga, di depan orang tua pengantin, bersalaman, ke pengantin pria, menyalami jarak sedang dan tiba di hadapan pengantin putri aku petemukan pipiku dengan pipinya, sambil berucap”Selamat yaa, doain cepet nyusul dunk,” pintaku. Pengantin wanita tersenyum mengangguk,”Iya, cepet yaa…. amin,” jawabnya.
Semua gubuk dan meja prasmanan terlihat dipenuhi orang. Aku melongok ke arah papan nama gubuk, sate ayam, soto betawi, es doger, es puter, siomay, aneka pasta, cendol, soto padang. “Aha, spaghetti aja deh, “ajak perutku. Aku mendekat ke gubuk pasta yang tidak terlalu padat. Dan, sebentar kemudian, seporsi kecil sphagetti plus makaroni panggang sudah bisa kuicip. Saat mengunyah penganan itu, seseorang memanggilku,”Hei,…,” jawabku atas sapanya. “Komenk, … apa kabar?” tanyaku. Kami bertukar kata sejenak. Ia berpamitan sebentar untuk mengambil santapan, sementara aku juga berniat menejelajah ke sudut lainnya.
Di dekat stand buah, tak sengaja aku bertemu beberapa wajah yang tak asing untuk tiga tahun lalu. Terbayang, gimana repotnya harus berkuliah dan mengerjakan tugas di tiga tahun silam. Kami “berhaha hihi” cukup lama, sampai panggilan MC meneriakkan nama almamater kami. “Bagi rekan-rekan mempelai asal IISIP, dipersilahkan mengambil tempat di panggung untuk berfoto dengan pengantin,” tegas MC. Spontan, semua yang merasa pernah bersentuhan dengan almamater di Lenteng Agung itu berlarian kecil ke arah panggung pelaminan. Mataku bersirobok dengan mata teman yang belum sempat tersapa. “Hei,.. hei,…hei,..” tawa kami terdengar saling meningkahi. Di atas panggung, kami berpose beberapa shoot. Bersalaman dengan pengantin, dan berlarian turun dari pelaminan.
Dari beberapa juru foto gak resmi karena hanya menggunakan kamera handphone. Dan mereka itu beberapanya adalah pasangan teman-temanku, kami mendapati aksi kami barusan. “What,…kok gaya gw gak ok sih,..” keluh temanku. “Ah, mang dari dulu situ gak ok, kan ?” canda temanku menimpali. “Hahahahihihi…..,” terdengar bersahutan. “wah, iya nih,, gayaku juga gak maksi, nih,” sela ku.
Padahal kayaknya jalan dari rumah dah keren dehh, kok ak u jadi gak keruan, mata gak fokus, senyum gak menawan,.. halah,.. halah,…
Wah ini merupakan kejadian yang kesekian kalinya. Waktu jalan tadi sebentar sudah aku cek penampilanku di muka kaca kesayangan aku, milik aku, di rumah aku. “Di kaca sendiri dah bagus deh,” ingatku. Kok, di kamera ini aku gak sebagus tadi waktu jalan. Aku melayangkan ingatan lagi, Hhhhmmmhhh, kapan itu juga di kaca rumah dah ok, di cermin kantor penampilanku juga baik, misalnya sebelum meeting, kadang aku sempatkan berkaca sejenak. Tapi waktu tiba di tempat meeting ke klien, numpang toilet, di kaca mereka kok kurang ok, juga yaa,..
Apakah, cermin hanya di rumah aku dan kantor saja yang maksi buat aku. Lama-lama cerita cermin di rumah dah kayak cermin ajaib milik ratu yang musuhnya snow white. “Mirorr, mirror in the world, tell me who’s beauty one in the world ? trus cerminnya nyahutin, si snow white yang paling cantik. Bikin ngiri si ratu trus niat ngejahatin snow white.
Apa karena kita sudah kadung akrab sama kaca rumah dan kantor, maka mereka cs banget kalo mantulin bayangan diri ini. Tapi kalo penampilan bagus dilihat dari pantulan, sadar gak sih,.. suka bikin garis bibir tertarik ke samping dan sebentuk senyum muncul di sana. Terang aja, efeknya bertambah manis tuhh, pantulan wajah yang menyembul di cermin tadi. Eheeemmm,…
Lantas terfikir, gimana bikin semua kaca yang aku pasang tampang di depannya, bisa memantulkan objektivitas wajah. Oh, ya apa wajah aja yang dipoles, alias “ketok magic” atau dirawat. Kalo gak bisa tampil menawan lantaran hidung gak bangir, alis gak seperti semut beriring, atau punya dagu yang kayak lebah menggantung, mata bak bintang kejora, pipi bersemu merah, bibir merah delima sigar jambe, berleher jenjang, berbetis bunting padi, rambut laksana mayang terurai. Stop,.. stop,…. itu standar kecantikan putri raja kali yaa,…and zaman dulu,…
Maksudnya, mungkin bisa disiasati dengan rajin cuci muka, rajin mandi buat pekerja yang pulang malam yang kadang enggan mandi sore. Yang berdalih biar gak gampang rematik, tuanya. Ke salon sebulan sekali untuk bilas wajah (facial) atau luluran. Sekedar membentuk fisik yang bersih dan sehat. Mana tahu, aura kesehatan dari dalam mencipta energi jelita dari dalam. (inner beauty). Rajin berlatih pose dan senyum yang oks di depan cermin. Tapi kebutuhan senyum itu, bukan cuma biar enak depan kamera, tapi biar ok juga di depan orang-oarang, baik teman atau klien.
Kalo gitu, dah gak pake jaminan kaca rumah aja yang komentar ok terhadap penampilan kita. Tapi semua kaca yang kita numpang nampang bentar pasti teriak kalo kita itu yang kata kaca adalah “makhluk tanggung tampang, tapi manis, ramah, dan mau nyapa orang lain, jadi dapat toleransi besar dehh kalo ‘diperhatiin orang lain’……..”
Gak pernah ada yang salah dari sang Rahman dan Rahim saat mencipta kita. Hanya jika kita mendapati tampang kita gak seideal bintang film atau model. Atau membanding dengan standar manusia yang gak sempurna itu. Karena Alloh itu indah, maka merawat diri itu bagian dari menjaga keindahan yang Alloh titipkan dalam kesempurnaan ciptaan-Nya di dalan diri kita.
(Di salon, usai kondangan, setelah melihat foto yang kurang ok itu, hahahahahaha)