Tentang Kebodohan
His explanation just so clear, he has quick answer for my slow question. I must be look so stupid. But that’s fine, I realized if I dumb, that’s good for my brain, there’s still space for memorize something. The doctor just open my mind, with all my respect, once again thanks to you! Hopefully, I can be smarter after this.
Perasaan nggak keruan muncul ketika aku tidak lancar saat meminta keterangan dari nara sumber untuk topik yang dipinta editorku. Sesalku, hanya di dalam hati andai aku lebih mempersiapkan diri dengan membaca bahan yang sebelumnya telah kukumpulkan. Hanya karena waktu jumpa yang diset di awal hari, membuatku tak sempat membaca rinci bahan yang sudah kusiapkan sebelumnya.
Mungkin kalau manusia tidak pernah dikondisikan untuk pernah merasa bodoh, ia bisa terjerumus dalam kesombongan merasa cukup pintar atau lebih pintar. Aku jadi teringat tentang artikel yang dibuat oleh seseorang dari dunia maya yang menulis mengenai ulat yang bakal menjadi kupu – kupu, tetapi tak cukup sabar berupaya untuk bisa keluar dengan penuh perjuangan dari kepompongnya menyebabkan ia berputus asa dan merasa tidak berdaya. Malahan melibatkan pihak luar yang mengeluarkannya dengan bantuan. Dan memang calon kupu-kupu itu dapat segera keluar dari kepompongnya tapi ia tidak melewati proses yang seharusnya. Walhasil ia tak sanggup terbang karena pertumbuhan sayapnya yang tidak maksimal, kupu-kupu itu bertubuh kerdil dan selama hidupnya kemudian ia tak bisa terbang seperti rekannya, hanya merangkak di daratan akibat disfungsi organ yang dipicu oleh ketergesaannya.
Terkadang manusia berharap banyak hal, seperti kesehatan namun secara paradoks Allah memberikan ujian berupa kesakitan. Kala meminta kemakmuran maka Allah menguji dengan kesempitan dan kekurangan agar manusia berupaya mengatasi masalah tersebut. Saat berharap kepandaian atau kepintaran maka harus bekerja keras untuk memecahkan soal selama menjalani pendidikkan. Adanya proses, potensiasi dari otak, tenaga dan tekad menjadikan fase kesukaran jadi mendalam untuk diresapi.
Kesakitan yang datang sesungguhnya adalah sebuah proses untuk menuju sehat itu sendiri karena selama sakit, mekanisme antibodi bekerja, dan banyak hal ternyata Allah kabulkan dengan cara paradoks itu tadi.
Agaknya bagi yang tengah ditimpa kesedihan, kesakitan dan kesempitan berpikirlah bahwa itu adalah jalan untuk menjelang satu kebahagiaan, kala mampu melewatinya dengan cepat atau lambat dengan susah atau kepayahan.
Akan datang “kemudahan setelah kesulitan (Al Insyirah), terulang hingga dua kali yang menegaskan sesungguhnya kebahagiaan akan tiba, usai melampaui ujian. Jadilah kita seperti Abu Nawas yang senang melihat tanjakan karena sesudahnya akan ada jalan menurun. “Hebat ya ! Abu Nawas bisa berpikir begitu positif “.

assalamu’alaikum
tuk ukhti Ani,salam kenal ..teruskan menulis ya..
wassalamu’alaikum
Comment by maisara — April 5, 2006 @ 4:54 am
kok ra nulis maning …
Comment by pengunjung setia — June 8, 2006 @ 10:25 am
ukhti.puny data tentang siklus hidunya Keong mas? ana boleh minta tidakya.kebetulan TA ane sekitar itu.sukron atas infonya
Comment by wahidah — August 31, 2007 @ 4:09 am