keong mas

February 3, 2006

Jojoba Unik

Filed under: Personal

Petang itu ponselku berdering, tepat ketika sedang berdinas sore di apotik di bilangan selatan Jakarta. Terpampang nama Linda pada layar ponsel, teman SMF dahulu. “Hei, Lin, ..” sapaku. Kemudian ia mengabarkan bahwa seorang teman (lagi ?) yakni, Mbie, bermaksud mengakhiri masa lajangnya. Pada pertengahan bulan ini. Seingatku ini akan jadi kali ke-14 dari jumlah kami yang empat puluh (rekan satu angkatan ; waktu SMF). Maka ibarat jumlah gerbong kereta, yang akan berangkat adalah gerbong ke-14, milik Mbie. Sementara jalur kereta (rel) adalan rentang tahun yang kami lewati setelah kebersamaan terakhir pada medio 1997 sampai tahun ini, 2005. Dan tersisa 26 gerbong yang masih langsir di stasiun. Dengan tergagap kupastikan, diriku bisa menghadiri undangan rekanku, “O.k,…” tegasku pada Linda. “Aku kabarin anak timur yang lain, “ janjiku mengakhiri percakapan kami.

Aku memberitahu, Rini, Riana, Oshie, Rina, Indras, Iin, Varida, Vivi dan Retno. Tapi dari kesemuanya menyatakan kesibukan dan berhalangan untuk datang. Dan tersisa tiga nama yang menyanggupi akan datang.Yakni, Riana, Oshie dan Aku sendiri. “Ya, paham deh, sebagai bagian dari gank Jojoba Unik, pasti kita bareng, baik di perjalanan ataupun di lokasi,” tegas Riana menenangkan aku. “ouw, jojoba unik, apaan tuh ?” tanyaku. “Ya, jomblo-jomblo bahagia, usia panik !” terangnya. “Oalah !” geli juga aku dengar istilahnya, Yap, benar juga sih. Jelang usia 27 tahun aku memang agak panik, tiap kali menerima undangan pernikahanku. Hatiku sedikit meradang, ‘lagi ?! diduluin ? trus akunya, kapan ?!’ adalah pertanyaan berulang dalam hatiku. Syukurnya banyak cerita yang mendewasakan pikir dan melapangkan dada.

Segera kuambil buku lulusan angkatan 1997, kuberi checklist pada teman-teman yang telah berubah status. Sedikitnya aku mencatat sejumlah alasan mengapa mereka layak menikah. Antara lain, karena pada keluarga sebelumnya tidak didapati kebahagiaan yang harmonis, Secara personality ada temanku yang bagus, seperti penurut pada orang tua, sopan jadi seperti sudah memang imbalan karena ketaatan mereka, atau ada juga teman yang teruji dengan sakit kronis (kanker) yang mendapatkan jodoh, mungkin sebagai penghibur hati dan penguat perjuangannya dalam mencapai kesembuhan, iya kan? Atau ada teman yang performa da’wahnya bagus tapi dahulunya ditentang oleh keluarga (masalah jilbab) dan teman ini survive sehingga menikah adalah hal yang layak. Atau ada teman yang dengan menikah mendapat solusi karena secara berulang ia senantiasa menghadapi masalah hati (VMJ ; Virus Merah Jambu)

Walau meletihkan itu sangat membantu, pada akhirnya tak perlu iri hati. Dengan besarnya pengertian bahwa kondisi menikah buat mereka (yang sudah) adalah putusan terbaik, ‘big gift’, ‘best gift’. Karena, mungkin (terkaan) ada sisi hidup dari mereka yang menyakitkan / mengecewakan, sedang dalam ujian dan menikah adalah obat sekaligus anugerah yang mengharukan juga indah. Menjadi besar ikhlasku untuk turut mengantar teman menyongsong fasenya yang baru. Toh, selama dalam penantian pun tak kurang nikmat Allah tercurah dan (pasti) tanpa coba menghitungnya, seperti, pekerjaan yang tetap, penghasilan yang relative cukup, kesempatan edukasi lanjutan, teman yang pengertian, peluang terlibat dalam kegiatan lain, kesempatan mengkaji hidup dengan lebih arif, dan banyak lagi, iya kan ?

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://anie.blogsome.com/2006/02/03/jojoba-unik/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M