keong mas

February 3, 2006

Anie

Filed under: tentang aku

Tiga kata yang terangkai menjadi namaku , hadiah dari kedua orang tuaku, membuat varian panggilan dan penggolongan pertemanan. Sempat bersekolah di TK, hanya karena melihat enaknya belajar kala mengantar kakak ke sekolahnya. Lingkungan TK menyapaku sesuai dengan panggilan rumah, ‘anie’ begitu kemudian aku menandai kalau ada yang memanggil dengan nama anie (ani), itu berarti teman TK.

Memasuki lingkungan SD, wali kelasku yang mengubah panggilan ku, menyesuaikan dengan nama depanku, ‘partinah’, demikian aku menikmati panggilan itu selama kurang lebih 6 tahun. Teman SMP kemudian memanggil P. Nanik, teman SMF menyukai panggilan SD. Dan rekan kerja serta teman kuliah bernostalgia dengan panggilan TK, Tapi aku sendiri juga lebih menyukai panggilan ‘ anie (ani)’

Lahir dan besar di Jakarta, dan selama 27 tahun itu aku tak juga beranjak dari timur Jakarta, berdarah Jawa, karena itulah asal kedua ortang tuaku, Sukoharjo - Wonogiri. Berbahasa Jawa, sedikit dan itupun ‘ngoko’, karena di rumah masih dibiasakan.

Melewati masa - masa menyenangkan di SD Cawang, SMP 49 dan SMF Negri dan berkesempatan kuliah di kampus yang berlokasi di Lenteng Agung.

Lama berkutat di dunia obat, menjadi praktisi lapangan dan layanan informasi medis (njelimet ; kerja di apotik), sekarang kebetulan kerja di media, jadi kuli tinta di majalah kesehatan yang kurang popular, karena hanya untuk komunitas saja.

Anak ke-2 dari 4 bersaudara, tapi ceweknya ditengah, atau istilah jawanya ‘dua sendang kapit pancuran’ (karena umumnya istilah itni buat 3 bersaudara, yang diapit), tapi gak papa lah, aku suka menyebutnya, begitu,

Dan, itulah, sedikit tentang Partinah Nanik Suharni, tapi, panggil aja ‘ani’
anie

Keong Mas

Filed under: Personal

Interest aja, sama keong mas ketika aku secara tidak sengaja mendapatkan pertolongan dari teman tanpa dia sendiri berkoar - koar. Meski hal yang diperbuatnya, bukan hal besar ini terkait sama ke-gatekan - aku. Tapi namanya menolong kan gak ada ukuran besar atau kecil kan yaa ?

Trus, aku inget sama legenda keong mas itu, dia itu kan jelmaan putri raja yang sedang menjalani masa kutukan. Beruntung ada sepasang kakek dan nenek yang menolong dan merawat keong itu dan dibawa pulang. Sebagai ungkapan terima kasih maka ‘keong mas’ melakukan apa saja yang dapat menolong sepasang kakek dan nenek tadi. Jadilah ia setiap hari membersihkan rumah, merapikan dan memasak. Sehingga di waktu kedua orang tua itu kembali ke rumah, semua sudah rapi termasuk makanan yang sudah terhidang.

Intinya sebenarnya abis itu, bisa gak sih kita kayak ‘keong mas’, yang melakukan suatu pekerjaan tanpa harus menonjolkan diri, mungkin hal ini ada hubungannnya sama niatan membalas budi atau keikhlasan juga, yaa,.. ? Jadi mau ngukur nih dah seberapa besar kita ikhlas dalam bekerja, gak ‘mutung’ kalau dimintain kontribusi buat keluarga dan adik - adik, trus kita dah cukup punya kepedulian sama orang banyak ?? gak jauh- jauh, misalnya ke tetangga, kita tahu kabar mereka gak sih, atau perkembangan mereka ??

Buat koreksi aku juga sih !!!

Jojoba Unik

Filed under: Personal

Petang itu ponselku berdering, tepat ketika sedang berdinas sore di apotik di bilangan selatan Jakarta. Terpampang nama Linda pada layar ponsel, teman SMF dahulu. “Hei, Lin, ..” sapaku. Kemudian ia mengabarkan bahwa seorang teman (lagi ?) yakni, Mbie, bermaksud mengakhiri masa lajangnya. Pada pertengahan bulan ini. Seingatku ini akan jadi kali ke-14 dari jumlah kami yang empat puluh (rekan satu angkatan ; waktu SMF). Maka ibarat jumlah gerbong kereta, yang akan berangkat adalah gerbong ke-14, milik Mbie. Sementara jalur kereta (rel) adalan rentang tahun yang kami lewati setelah kebersamaan terakhir pada medio 1997 sampai tahun ini, 2005. Dan tersisa 26 gerbong yang masih langsir di stasiun. Dengan tergagap kupastikan, diriku bisa menghadiri undangan rekanku, “O.k,…” tegasku pada Linda. “Aku kabarin anak timur yang lain, “ janjiku mengakhiri percakapan kami.

Aku memberitahu, Rini, Riana, Oshie, Rina, Indras, Iin, Varida, Vivi dan Retno. Tapi dari kesemuanya menyatakan kesibukan dan berhalangan untuk datang. Dan tersisa tiga nama yang menyanggupi akan datang.Yakni, Riana, Oshie dan Aku sendiri. “Ya, paham deh, sebagai bagian dari gank Jojoba Unik, pasti kita bareng, baik di perjalanan ataupun di lokasi,” tegas Riana menenangkan aku. “ouw, jojoba unik, apaan tuh ?” tanyaku. “Ya, jomblo-jomblo bahagia, usia panik !” terangnya. “Oalah !” geli juga aku dengar istilahnya, Yap, benar juga sih. Jelang usia 27 tahun aku memang agak panik, tiap kali menerima undangan pernikahanku. Hatiku sedikit meradang, ‘lagi ?! diduluin ? trus akunya, kapan ?!’ adalah pertanyaan berulang dalam hatiku. Syukurnya banyak cerita yang mendewasakan pikir dan melapangkan dada.

Segera kuambil buku lulusan angkatan 1997, kuberi checklist pada teman-teman yang telah berubah status. Sedikitnya aku mencatat sejumlah alasan mengapa mereka layak menikah. Antara lain, karena pada keluarga sebelumnya tidak didapati kebahagiaan yang harmonis, Secara personality ada temanku yang bagus, seperti penurut pada orang tua, sopan jadi seperti sudah memang imbalan karena ketaatan mereka, atau ada juga teman yang teruji dengan sakit kronis (kanker) yang mendapatkan jodoh, mungkin sebagai penghibur hati dan penguat perjuangannya dalam mencapai kesembuhan, iya kan? Atau ada teman yang performa da’wahnya bagus tapi dahulunya ditentang oleh keluarga (masalah jilbab) dan teman ini survive sehingga menikah adalah hal yang layak. Atau ada teman yang dengan menikah mendapat solusi karena secara berulang ia senantiasa menghadapi masalah hati (VMJ ; Virus Merah Jambu)

Walau meletihkan itu sangat membantu, pada akhirnya tak perlu iri hati. Dengan besarnya pengertian bahwa kondisi menikah buat mereka (yang sudah) adalah putusan terbaik, ‘big gift’, ‘best gift’. Karena, mungkin (terkaan) ada sisi hidup dari mereka yang menyakitkan / mengecewakan, sedang dalam ujian dan menikah adalah obat sekaligus anugerah yang mengharukan juga indah. Menjadi besar ikhlasku untuk turut mengantar teman menyongsong fasenya yang baru. Toh, selama dalam penantian pun tak kurang nikmat Allah tercurah dan (pasti) tanpa coba menghitungnya, seperti, pekerjaan yang tetap, penghasilan yang relative cukup, kesempatan edukasi lanjutan, teman yang pengertian, peluang terlibat dalam kegiatan lain, kesempatan mengkaji hidup dengan lebih arif, dan banyak lagi, iya kan ?

Awal

Filed under: Personal

Alhamdulillah, akhirnya, setelah beberapa waktu cuma bisa ngeliatin orang di blognya !! Sekarang aku bisa juga punya blog. meski sesudahnya aku malah bingung untuk mengisinya. Tapi memiliki blog mengingatkan aku pada awal tahun ajaran di 94′ ketika aku mulai cari diary untuk menulis perjalanan hidup sesudahnya. Nyatanya dalam diary itu ku guratkan banyak kisah terkait dengan hidup. Mungkin gak beda jauh nantinya isi blog. Bedanya tentu saja format yang berupa buku dan layar yang jadi medianya. lepas itu mungkin kalau isi gak jauh beda, selain sekarang ngisinya mungkin bukan hal cengeng lagi atau becandaan melulu. Dah mulai berbobot kali, ya, kerjaan, pertemanan, visi hidup, keseharian, obsesi, kelemahan, ya, gitu - gitu deh,..!!






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M